Jauh Kedalam Hutan

•November 26, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Segenggam bunga…

Seikat ranting-ranting kering…

Sejumput daun-daun terserak, jauh kedalam hutan.

Batang dan dahan tetap beronggok tegak didalam hutan basah, menanti hujan…

Setelah Minggu pertama Januari.

Senja yg selalu menanti dan Mencinta

•November 1, 2008 • 1 Komentar

Senja yang selalu menanti dan mencintai/berlari kepundak-pundak kelelahan yg sudah tidak lagi sebenarnya mampu menahan/ sedari dahulu sejak awal melihatmu, hati ini terbuka untuk mencintaimu/hanya mencintaimu….

Bidadari kecilku yg selalu keemasan tertimpa senjan yg selalu menanti/ dan aku yg selalu mencintai/ tiada hari aku untuk tidak mencintaimu/

semua cara adalah demi mencintaimu/ mendekati dan menjauhi adalah semuanya karena mencintaimu/ seperti hari inipun mengabaikanmu adalah cinta terbesar yg pernah diberikan…/ bidadari mungkin kamu tidak memahami apapun tentang segala halĀ  yang berjalan diantara kita…/ bertemu adalah seperti melihatĀ  bintang disaat badai/ demikianpun selalu setia untuk memelukmu dalam setiap tidurku…

Bidadari… entah sampai kapan mencintamu/ entah sampai kapan mencintamu/ karena hal ini adalah indah, biarlah mencintai seperti ini… seperti membungkus lipatan dalam kertas hitam/ karena ini mencintaimu secara sesungguhnya.

Gasibu, Sebuah Kenangan

•Juli 31, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Gasibu…pada tangan yang menjagakan.

Sampai besi hijau Cicaheum-Ledeng memisahkan.

Selamat jalan..Adek jangan lupa makan.

Itu saja pesan reguler.

Roti bakar “KASDI” monumen, berjanji Malam ini Mas datang….

Tolong mengerti untuk tidak mengunci beberapa bagian.

Dan tidurlah sambil menungguku dibawah selimut malamnya.

Kubisikkan adek adalah perempuan yang pantas mencintai mas!…

Apakah ini cukup menyenangkan?

Cukup mencintai saja…cuma itu.

Banyak hal tentang hati yang bercabang. yang satu dahannya mengarah padamu.

Terima kasih karena mengerti tentang hal ini.

Menjadi selingkuhan mas…

Hari-hari ini, Mas milikmu

Balubur…Taman sari

Sebuah surga disepanjang keanehan suatu hubungan.

Menjadikan bingkai-bingkai kita diwaktu lewat.

Mengenai hal ini tentunya kamu mengerti.

Tentang tali baja pengikat Mas.

Yang kita himpun adalah ketidakmampuan,

terlilit tidak seluruhnya, meski selimut namun telah melelapkan Mas.

Disebuah pundak pengertian tentang hubungan ini.

Kamu jangan Lupakan Gasibu, Balubur & Tamansari.

Karena Mas bahagia, kamu bahagia.

Tidak Merubah Hidup

•Juli 30, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aku mendengar suara dari dingin yang melayang mengarahku.
Mencoba melelahkan tangan-tangan agar bersenggama dengan dadaku.
dan Memaksakan lutut menciumnya.

Aku tidak begitu yakin tentang sebuah hal yang benar…
Waktu…begitu tidak memperdulikan tentang sebuah danau yang belum terenangi,
tentang sebuah bukit yang belum terdaki.

Dingin & waktu
Benar benar telah melangkahi & mengosongkan pipa-pipa darah dan menjatuhkan air kelelahan.
Bukankah itu sama saja dengan menyuruh untuk berhenti merenangi & mendaki?
Ini tidak membuatnya semakin mudah, lalu bagaimana aku membayarnya?…

Batu, Tanah & langit sudah tidak lagi membaikiku.
Bagaimana lalu aku memutuskan?
Aku bertaruh semua orang yang lebih tua dan tidak menyesali tentangnya
Jalan ini lebih baik…
Aku melakukan hal benar tak perlu diragukan.

Huh…mungkinkah aku akan terkutuk?
Bagaimana dengan sekarang?
Yah…biar saja dingin itu tetap dingin dan mengalahkanku.
Sudahilah batu, tanah & api yang tidak lagi membaikiku.
dua…tiga…langkah kedepan.
Danau & bukit terlewati, meski ini tidak merubah hidup

Perempuan, Kekasih Malam

•Juli 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Datang…

Ia datang setiap sebelum tidurku.

Menemani tubuh dengan segala kerelaan.

Wajahmu sangat sempurna!…

Saling mendekap melepaskan pagar-pagar bambu.

Mengiyakan segala kehendak.

sampai lelah terlelap.

dan…

Ia pergi begitu saja.

Datang Seutuhnya kembali setiap sebelum tidurku.

Aku ingin tidur setiap saat.

Datang…datanglah waktu tidur.

Balubur 2004 dan Sebuah Pengingkaran

•Juli 7, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Balubur disuatu hari pada suatu bulan ditahun 2004,

Aku pikir …

Kita telah saling mengingkari…apa kamu dapat merasakannya?…

Yah, mengingkari janji kita masing-masing,

Dan untuk itu kita bertemu disuatu hari dibulan Juli


Aku terpaksa mengingkari diri

Demi kamu agar kita bertemu dan begitupun kamu!…

Pada cinta yang tetap tumbuh pada akhir sebuah nafas.

yang terintih pasti dalam pelepasan.


Aku mengantarkanmu, melepasmu …

dan tetap mengikat hatimu untuk setiap dimensi dan kultur.

Karena kaupun tak pernah melepaskanku secara sungguh-sungguh.


Pagar duri itu tidak lagi membatasi,

Kitapun tak perlu saling melanggarnya

Karena itu sesungguhnya mesti terjadi

Dalam hal ini, Aku melupakan semua

Karena hari itu, hanya kamu yang begitu membuatku bahagia.


Bukan itu maksudku…

Kamu tidak harus memilih, hanya saja hari itu milikku seutuhnya

Sebuah kecupan…

dan setelah tikungan itu, maka kamu bukan milikku lagi

Kamu ingat, Ini adalah yang sesungguhnya membahagiakanmu!…

Mengingkari diri masing-masing

Dosa ini tak perlu dipikirkan terlalu dalam

Ini dapat kita tanggung

Nanti…

Suara Suatu Panggilan

•Juli 7, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Apakah kami benar-benar saling mencintai?…

Tidak pernah kami sungguh-sungguh menyatakan

Bagaimana kami merasakannya pada saat itu?…


Kami hanya mendapatkan beberapa

Kami saling mencintai setelah terpisahkan

Seandainya kami dipertemukan dimasa datang

Kami kira hanya diperuntukkan satu sama lain

Jadilah tegar & memberi dia suatu panggilan

“SNI”…SNI…SNI…YOSAENG

Aku berpikir telah mendengar suranya

Itu menjadi sangat penuh dengan cinta.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.