Segenggam bunga…
Seikat ranting-ranting kering…
Sejumput daun-daun terserak, jauh kedalam hutan.
Batang dan dahan tetap beronggok tegak didalam hutan basah, menanti hujan…
Setelah Minggu pertama Januari.

Segenggam bunga…
Seikat ranting-ranting kering…
Sejumput daun-daun terserak, jauh kedalam hutan.
Batang dan dahan tetap beronggok tegak didalam hutan basah, menanti hujan…
Setelah Minggu pertama Januari.
Senja yang selalu menanti dan mencintai/berlari kepundak-pundak kelelahan yg sudah tidak lagi sebenarnya mampu menahan/ sedari dahulu sejak awal melihatmu, hati ini terbuka untuk mencintaimu/hanya mencintaimu….
Bidadari kecilku yg selalu keemasan tertimpa senjan yg selalu menanti/ dan aku yg selalu mencintai/ tiada hari aku untuk tidak mencintaimu/
semua cara adalah demi mencintaimu/ mendekati dan menjauhi adalah semuanya karena mencintaimu/ seperti hari inipun mengabaikanmu adalah cinta terbesar yg pernah diberikan…/ bidadari mungkin kamu tidak memahami apapun tentang segala halĀ yang berjalan diantara kita…/ bertemu adalah seperti melihatĀ bintang disaat badai/ demikianpun selalu setia untuk memelukmu dalam setiap tidurku…
Bidadari… entah sampai kapan mencintamu/ entah sampai kapan mencintamu/ karena hal ini adalah indah, biarlah mencintai seperti ini… seperti membungkus lipatan dalam kertas hitam/ karena ini mencintaimu secara sesungguhnya.
Gasibu…pada tangan yang menjagakan.
Sampai besi hijau Cicaheum-Ledeng memisahkan.
Selamat jalan..Adek jangan lupa makan.
Itu saja pesan reguler.
Roti bakar “KASDI” monumen, berjanji Malam ini Mas datang….
Tolong mengerti untuk tidak mengunci beberapa bagian.
Dan tidurlah sambil menungguku dibawah selimut malamnya.
Kubisikkan adek adalah perempuan yang pantas mencintai mas!…
Apakah ini cukup menyenangkan?
Cukup mencintai saja…cuma itu.
Banyak hal tentang hati yang bercabang. yang satu dahannya mengarah padamu.
Terima kasih karena mengerti tentang hal ini.
Menjadi selingkuhan mas…
Hari-hari ini, Mas milikmu
Balubur…Taman sari
Sebuah surga disepanjang keanehan suatu hubungan.
Menjadikan bingkai-bingkai kita diwaktu lewat.
Mengenai hal ini tentunya kamu mengerti.
Tentang tali baja pengikat Mas.
Yang kita himpun adalah ketidakmampuan,
terlilit tidak seluruhnya, meski selimut namun telah melelapkan Mas.
Disebuah pundak pengertian tentang hubungan ini.
Kamu jangan Lupakan Gasibu, Balubur & Tamansari.
Karena Mas bahagia, kamu bahagia.
Aku mendengar suara dari dingin yang melayang mengarahku.
Mencoba melelahkan tangan-tangan agar bersenggama dengan dadaku.
dan Memaksakan lutut menciumnya.
Aku tidak begitu yakin tentang sebuah hal yang benar…
Waktu…begitu tidak memperdulikan tentang sebuah danau yang belum terenangi,
tentang sebuah bukit yang belum terdaki.
Dingin & waktu
Benar benar telah melangkahi & mengosongkan pipa-pipa darah dan menjatuhkan air kelelahan.
Bukankah itu sama saja dengan menyuruh untuk berhenti merenangi & mendaki?
Ini tidak membuatnya semakin mudah, lalu bagaimana aku membayarnya?…
Batu, Tanah & langit sudah tidak lagi membaikiku.
Bagaimana lalu aku memutuskan?
Aku bertaruh semua orang yang lebih tua dan tidak menyesali tentangnya
Jalan ini lebih baik…
Aku melakukan hal benar tak perlu diragukan.
Huh…mungkinkah aku akan terkutuk?
Bagaimana dengan sekarang?
Yah…biar saja dingin itu tetap dingin dan mengalahkanku.
Sudahilah batu, tanah & api yang tidak lagi membaikiku.
dua…tiga…langkah kedepan.
Danau & bukit terlewati, meski ini tidak merubah hidup
Datang…
Ia datang setiap sebelum tidurku.
Menemani tubuh dengan segala kerelaan.
Wajahmu sangat sempurna!…
Saling mendekap melepaskan pagar-pagar bambu.
Mengiyakan segala kehendak.
sampai lelah terlelap.
dan…
Ia pergi begitu saja.
Datang Seutuhnya kembali setiap sebelum tidurku.
Aku ingin tidur setiap saat.
Datang…datanglah waktu tidur.
Balubur disuatu hari pada suatu bulan ditahun 2004,
Aku pikir …
Kita telah saling mengingkari…apa kamu dapat merasakannya?…
Yah, mengingkari janji kita masing-masing,
Dan untuk itu kita bertemu disuatu hari dibulan Juli
Aku terpaksa mengingkari diri
Demi kamu agar kita bertemu dan begitupun kamu!…
Pada cinta yang tetap tumbuh pada akhir sebuah nafas.
yang terintih pasti dalam pelepasan.
Aku mengantarkanmu, melepasmu …
dan tetap mengikat hatimu untuk setiap dimensi dan kultur.
Karena kaupun tak pernah melepaskanku secara sungguh-sungguh.
Pagar duri itu tidak lagi membatasi,
Kitapun tak perlu saling melanggarnya
Karena itu sesungguhnya mesti terjadi
Dalam hal ini, Aku melupakan semua
Karena hari itu, hanya kamu yang begitu membuatku bahagia.
Bukan itu maksudku…
Kamu tidak harus memilih, hanya saja hari itu milikku seutuhnya
Sebuah kecupan…
dan setelah tikungan itu, maka kamu bukan milikku lagi
Kamu ingat, Ini adalah yang sesungguhnya membahagiakanmu!…
Mengingkari diri masing-masing
Dosa ini tak perlu dipikirkan terlalu dalam
Ini dapat kita tanggung
Nanti…
Apakah kami benar-benar saling mencintai?…
Tidak pernah kami sungguh-sungguh menyatakan
Bagaimana kami merasakannya pada saat itu?…
Kami hanya mendapatkan beberapa
Kami saling mencintai setelah terpisahkan
Seandainya kami dipertemukan dimasa datang
Kami kira hanya diperuntukkan satu sama lain
Jadilah tegar & memberi dia suatu panggilan
“SNI”…SNI…SNI…YOSAENG
Aku berpikir telah mendengar suranya
Itu menjadi sangat penuh dengan cinta.